(Mianhae, Saranghaeyo)
Author : Angzilo Lee (Lee Jung-Hyo)
Genre : Sad (failed).
Ratting / Length : PG + 14 / Oneshoot
Cast :
· Jeon Jungkook (Bangtan Boys)
· Park Taejin (Main Cast)
· Kim Namjoon (Bangtan Boys)
Summary :
“Apakah Aku hanya seseorang yang datang dan pergi seperti hujan? Hujan yang membuatmu kedinginan dan kesepian? Maafkan aku, aku mencintaimu”
WARNING !!! Typo bertebaran, Cerita amburadul (?), ini FF asli punya Author, terinspirasi dari lagu BTS-Rain, berhubung Author masih amatir jadi mungkin tidak terlalu sad (harap maklum, namanya juga failed), PLEASE GIVE ME A COMMENT AFTER YOU READ AND NO PLAGIAT.
SELAMAT MEMBACA ^^
~.~RAIN~.~
Biga oneun jiteun saek seoul geu wie
Yeojeonhi jam mot iruneun naega heuryeojine
Jeo biga geuchyeo goin mul wie bichyeojin
Oneulttara deo chorahan naega geuryeojine
Yeojeonhi jam mot iruneun naega heuryeojine
Jeo biga geuchyeo goin mul wie bichyeojin
Oneulttara deo chorahan naega geuryeojine
*Warna tebal hari-hari hujan di Seoul
Aku masih tidak bisa tertidur karena aku mulai memudar
Hujan berhenti dan terlihat refleksi bayanganku di genangan air
Aku melihat diriku, terlihat lebih menyedihkan hari ini*
(Bts - Rain)
Dentuman music itu terus berputar memecah keheningan ruangan di sebuah café sederhana di Seoul, nada lagu ini juga terkesan mellow meskipun genre hip hop sebagai dasar dari lagu ini tetap terasa. Lagu ini benar-benar sangat pas dengan keadaan Seoul saat ini. Hujan. Café ini terlihat sepi, nyatanya café ini benar-benar sepi, selain karena konsep dari café ini mungkin terkesan terlalu kuno dan nuansanya yang begitu elegan, sangat tidak pas untuk dijadikan tempat merayakan hal bahagia, hanya orang yang sedang putus cinta atau butuh merenung dan menenangkan diri sajalah yang datang kemari. Suasana disini sangatlah tenang dan damai. Letak café ini tepat berada di depan gerbang sebuah sekolah ternama Seoul yaitu Academy Artist Song High School. Biasanya sesepi apa pun tempat ini paling tidak ada 5 sampai 6 orang pengunjung yang secara tak sengaja datang bersamaan, tapi kali ini hanya ada satu orang pengunjung yang terlihat sedang duduk sambil menundukkan kepalanya diatas meja, mata bulatnya itu terlihat mengarah kejendela memandang amukan hujan kota Seoul di luar sana.Seseorang yang berada di café itu adalah namja. Kalau diperhatikan sebenarnya ia adalah namja yang cukup tampan, mata bulat dengan iris hitam, hidung mancung, badan yang tegap, jangan lupa rambut yang terlihat acak-acakan , menambak kesan gentle dan juga cute. Bisa dibilang namja itu sangat tampan untuk memikat para yeoja yang bekerja di café itu, berbagai bisikan pujian, kekaguman dan kegugupan para yeoja itu sebenarnya dapat namja itu dengar dengan baik, namun namja itu sangat-sangat mengabaikannya. Tubuhnya yang membelakangi mereka membuat para yeoja itu mengira namja ini tidak mendengarnya. Mata namja ini hanya melihat pada satu titik diluar sana, melihat ganasnya hujan dan sebuah bangunan sekolah, tempat dimana penyesalannya dimulai.
Flashback
“Jungkook-ah!” terlihat seorang namja tengah berlari mengejar kawannya, namja itu mengenakan seragam SMA, di name tag tertulis namanya ‘Kim Namjoon’. Merasa terpanggil namja bernama Jungkook yang hendak pulang dan sedang didepan gerbang menoleh, setelah merasa jarak mereka cukup dekat Namjoon menghirup udara dengan rakus, membuat Jungkook kebingungan.
“Ne hyung, wae-yo? Gwaenchana?” Tanya Jungkook dengan tatapan malas yang selalu pas dengan wajah tampannya.“Ani,,, gwaenchana ani-ya Jungkook-ah, keadaannya sangat genting sekarang” jawab Namjoon masih tergagap.
“Waeirae?” Tanya Jungkook, kali ini ia memasang wajah datar.
“Pacarmu Lee Taejin, dia,,, dia diculik Jungkook-ah”
“Lee Taejin? Dia diculik? Oh, ayolah hyung aku tahu kau bercanda, tapi candaanmu sama sekali tidak lucu” Jawab Jungkook dingin, untuk kemudian ia membalikkan badannya untuk segera pulang.
“Jungkook-ah, apa aku terlihat sedang bercanda sekarang? Terserah kau percaya atau tidak, tapi seingatku Taejin dibawa oleh penculik itu kehutan belakang sekolah, JUNGKOOK-AH DENGARKAN AKU!!! KAU AKAN MENYESAL JIKA TERUS MENGABAIKANKU!!!” teriak Namjoon penuh amarah.
Flashback end.
Ingatan itu selalu terbayang di ingatan seorang Jeon Jungkook. Yeah, namja di café itu adalah Jungkook, namja yang mungkin sudah beberapa hari terakhir ini selalu termenung menyesali perbuatannya sendiri. Dengan malas Jungkook beranjak dari duduknya, sebentar ia menoleh kembali sekolah di sebrang jalan dengan wajah datar. Ia keluar dari café itu tanpa mengeluarkan sepeser uang, karna nyatanya ia hanya duduk merenung selama setengah jam di café itu. Jungkook berjalan ditengah-tengah jalanan kota Seoul, cukup gila memang kedengarannya tapi itulah yang ia lakukan sekarang, dijalan yang sepi karena terguyur hujan kurang lebih 1 jam yang lalu, awan mendung, udara dingin dan dentuman derasnya hujanlah yang menemaninya.
Tatapannya memandang kosong kearah depan, ia kelihatan sedang merenungkan sesuatu. Tubuhnya basah kuyup karena ia memang sengaja menantang hujan. Kedua tangannya ia masukkan kedalam saku yang terdapat di kiri kanan jaket tebalnya, jaket tebal itu tak setebal jaket musim dingin tentunya. Ditengah-tengah tatapannya seberkas ingatan muncul kembali dalam ingatannya.
Flashback
“Pemirsa, di hutan belakang sekolah ternama Seoul yaitu Academy Artist Song High School, telah ditemukan sebuah mayat seorang siswi bername tag ‘Lee Taejin’ dengan keadaan cukup mengenaskan. Juga seorang namja yang pingsan dan mengalami pendarahan cukup serius dikepala belakangnya, sekarang korban tengah mengalami perawatan intensif di rumah sakit terdekat.”. Click, televisi itu dimatikan oleh pemiliknya, siapa lagi kalau bukan Jungkook, berita itu memang sudah ia dengar sebelumnya dari kawan-kawannya. Berita itu harusnya sudah tak pantas ditayangkan karena kejadiannya sudah 2 hari yang lalu.
Mata sembab, bengkak dan rambut acak-acakan benar-benar bukan tipe nya, tapi inilah yang nyatanya terjadi. Jungkook menangis. Jungkook terduduk lemas di sofa depan televisinya itu, dengan malas ia mengambil secarik kertas di atas meja dihadapannya, di kertas itu terlihat beberapa tekukan yang membuat kertas itu terlihat kusut, sepertinya ia sudah berkali-kali membacanya. Ia kembali menangis menyesali perbuatannya sambil membaca isi surat itu.
To : Jeon Jungkook
Jungkook maafkan aku, dulu aku mungkin akan sering menjebakmu dengan cara kasar agar menjauhkanmu dari Taejin, tapi itu dulu. Sekarang aku sadar akan kesalahanku, kau sekarang tak pernah mempercayaiku lagi, aku sudah mencoba memberi tahu kepadamu semuanya, tapi kau tetap saja mengabaikanku. Ketika aku melihatmu mengabaikan berita buruk tentang Taejin yang diculik, aku segera pergi kehutan belakang sekolah seorang diri, tapi sialnya aku benar-benar bodoh, aku terlambat sampai sana dan betapa aku terkejut ketika aku melihat tubuh Taejin sudah terbujur lemas tak berdaya, hingga seseorang memukul kepala belakangku, dan semua pengelihatanku berubah gelap.
Aku tahu aku hyung terburuk yang pernah ada, andai saat itu aku tahu kau sedang marah akan kedekatanku dengan Taejin, dan aku segera pergi menolongnya mungkin hal ini tidak akan terjadi sefatal ini, maafkan aku Jungkook-ah. Mungkin saat kau membaca surat ini aku sudah tidak ada didunia ini lagi, maafkan aku menjadi hyung yang buruk bagimu, maafkan aku.
Kim Namjoon,
Jungkook kembali menangis, ia menahan isakkannya dengan menenggelamkan kepalanya diantara kedua lututnya.
Flashback end
Jungkook menghela nafasnya yang terasa berat, sekarang wajah tampannya sudah kelihatan memucat bahkan ia terlihat sedikit menggigil, entah kenapa hujan sampai sekarang masih enggan berhenti, hujan ini hujan terpanjang mungkin. Kakinya masih terus melangkah matanya masih saja menatap lurus kedepan dengan tatapan kosong. Ingatan lain kembali menghampirinya, ingatan yang sama sekali tak ingin ia ingat lagi, ia meneteskan air mata, wajahnya yang basah dan air hujan yang terus menghantamnya membuat air mata itu tersamarkan. “Bisakah kau memaafkanku? Aku mencintaimu, datanglah padaku, kembalilah, jangan tinggalkan aku,,, Taejin-ah saranghae,,,” gumam Jungkook dengan suara bergetar.
Cukup lama Jungkook berjalan hingga ia sampai disebuah bukit dekat taman yang biasa ia datangi bersama kekasihnya dulu, Lee Taejin, yeah, itu hanya dulu. Wajahnya semakin pucat, tubuhnya menggigil, bibirnya yang seharusnya merah sekarang terlihat membiru karena kedinginan. “Aku tahu aku salah, meski begitu tak seharusnya kau meninggalkanku selamanya, aku mencintaimu, maafkan aku atas semua sikap burukku, aku mencintaimu, KAU DENGAR LEE TAEJIN!! AKU MENCINTAIMU!!!” Jungkook berteriak bersamaan dengan suara petir yang meyambar. Ia kelihatan begitu lemas untuk kemudian terduduk, menekuk lututnya didepan dada sedang tangannya memeluk lututnya. Ia menenggelamkan kepalannya diantara lututnya, detik berikutnya terdengar isakkan seorang Jungkook dengan bahunnya yang terlihat bergetar.
Tak lama ia terisak, bisa kita lihat ia bangkit dari duduknya menarik nafasnya dalam dan menghembuskannya pelan. “Apa kau tak ingin memaafkanku? Hyung maafkan aku dan Taejin-ah, apa aku terlihat sangat buruk dimatamu? Maaf. Apakah Aku adalah seseorang yang paling menyedihkan? Apakah keberadaanku kepadamu ini seperti hujan? Jika tidak, apakah Aku hanya seseorang yang datang dan pergi seperti hujan? untuk siapa hujan ini? Apa ini semakin menandakkan kalau aku memang begitu buruk? Mianhae, jeongmal mianhae, karena aku menjadi orang jahat dimatamu. TAEJIN-AH!! MIANHAE!! NEOMU SARANGHAE!!” Jungkook kembali terisak, kemudian ia meneruskan kata-katanya, “ Jika suatu saat nanti kau kembali dengan raga orang lain, aku berjanji tidak akan mengecewakanmu” gumam Jungkook, kedua tangannya terlihat mengepal. “AARRRGGHHH,,,,!!!” teriakan Jungkook sepertinya menguras habis tenaganya hingga ia terjatuh ketanah pengelihatannya kabur sekarang, sebentar ia melihat seberkas cahaya menyilaukan matanya, ia melihat Taejin dan Namjoon tengah tersenyum kearahnya dengan pakaian serba putih untuk akhirnya menghilang, lalu semuanya gelap dipandangan Jungkook. Jungkook pingsan saat itu juga, tanpa ada yang mengetahuinya, air diwajah Jungkook bukanlah murni air hujan tapi ada juga air mata yang menyiratkan kesedihan dan penyesalan yang mendalam.
~FIN~

Tidak ada komentar:
Posting Komentar