Just
Thirtty Minutes
Author : Angzilo Lee
Genre : School life, Confession, Romance
(?), etc.
Length/Ratt : Oneshoot/T
Cast :
·
Jung
Hoseok (Bts)
·
Song
Jiseol (OC)
~Angzilo
Lee Story Line~
Prologue :
“Tiga puluh menit. Hanya butuh tiga puluh
menit agar aku bisa membuat jantungmu berdebar dengan tempo yang begitu cepat. Tiga
puluh menit waktu yang aku butuhkan agar aku bisa menyatakan perasaan ‘Love at
the first sign’-ku. Dan, tiga puluh menit ini waktu yang singkat untuk aku bisa
mencuri waktumu yang selalu kau ributkan”
–Jung Hoseok.
“Tiga puluh menit yang menyebalkan. Tiga
puluh menit yang membuatku merasa semakin muak. Tapi tiga puluh menit ini juga
yang berhasil membuatku tahu bahwa ia adalah orang yang aku tunggu
dikehidupanku. Orang yang membuat detak jantungku benar-benar bergemuruh”
–Song Jiseol.
(Happy Reading ^^)
~Just
Thirtty Minutes~
Pagi
hari ini cukup cerah, buktinya koridor kelas disekolah ini sudah terang terkena
sinar matahari. Pagi yang cerah memang mungkin akan membangkitkan semangat orang-orang
untuk memulai aktifitasnya. Tapi sepertinya itu sama sekali tidak berlaku bagi
seorang yeoja yang sekarang sedang duduk dihadapan seorang namja yang mungkin
saja kawannya?
‘Dia bukan temanku’ batin yeoja itu.
‘Dia orang gila yang benar saja baru aku kenal dua hari yang lalu’ sambungnya.
Yeoja bernama Song Jiseol itu kelihatan murung. Mata bulatnya menatap sebal
namja dihadapannya itu.
Pagi yang benar-benar masih pagi ini
membuat suasana disekolah juga cukup sepi dengan hanya beberapa siswa yang
sudah berangkat. Karena mereka bertugas untuk piket.
“Ya. Namja pabbo, katakan apa maumu
sekarang? Kau harusnya tahu aku tidak punya banyak waktu untuk orang gila
sepertimu” ucap Jiseol kesal.
“Aigoo, berbicaralah yang sopan pada
orang yang baru kau kenal”
“Akhirnya kau sadar bahwa aku baru
mengenalmu, tapatnya berapa lama? Dua hari yang lalu. Bagus kalau kau masih
menyadarinya. Dan aku ingatkan juga, jangan ganggu orang yang baru kau kenal,
karena kau belum tahu bagaimana sifat aslinya”
“Woah, apa kau baru saja memberiku
saran?”
“Kau fikir saja dengan otakmu itu”
“Sangat tidak sopan. Tapi, kau baru
saja memberiku saran? Atas dasar apa?”
“Toleransi”
“Jinjja? Kalau begitu kau khawatir
padaku?”
“Khawatir apanya? Aku bilang itu
hanya-“
“Toleransi? Apa perbedaan antara
teoleransi dengan kepedulian? Dan menurutku itu tidak jauh beda dengan
‘kekhawatiran’. Katakan padaku kau mengkhawatirkanku bukan?”
“Bukan”
“Eh?”
“Ayolah, katakan apa yang kau
inginkan, aku bilang aku tidak punya banyak waktu untukmu” ucap Jiseol yang
kemudian memalingkan wajahnya dari namja itu.
“Ah, setidaknya kau rela
mengorbankan waktu pentingmu untukku bukan?”
“Terserah kau Jung Hoseok-ssi, aku
akan pergi karena kau hanya membuang-buang waktu yang aku berikan untukmu”
Jiseol hendak meninggalkan Hoseok,
hingga kemudian dengan cepat Hoseok berdiri dan mencegat yeoja itu pergi.
“Chakkaman! Aish, baiklah akan aku
katakan apa yang aku inginkan sekarang” ucap Hoseok dengan nada yang sedikit
tergesa-gesa.
.
.
“Aku ingin-“
.
.
.
“Kau-“
.
.
.
“Punya lebih
banyak waktu untukku”
.
.
Hening sesaat.
Hingga Jiseol kembali memutar bola matanya malas.
“Tsk, sangat tidak penting”
“Aku fikir suatu saat nanti ini akan
jadi hal yang sangat penting”
“Bagimu dan bukan bagi diriku!”
“Tentu saja bagimu, karena kau akan
jatuh hati padaku”
“Jangan harap”
“Aku hanya berharap, apa itu tidak
boleh?”
“Berharap tanpa usaha hanya akan
sia-sia”
“Maksudmu, kau ingin aku mengejar
cintamu?”
‘Tepat’ –batin Jiseol. Sekarang
yeoja itu sudah kelihatan gugup. ‘Ini jebakan’ –batinnya lagi.
“Jiseol-ah”
“N-nde? A-a-ani, kau fikir saja
urusanmu sendiri Hoseok-ssi”
Jiseol kembali mencoba pergi dari
cengkraman Hoseok. Namun, namja itu masih saja menghalangi Jiseol agar tetap
dihadapannya.
“Tunggu, kau katakan aku harus
mengurus urusanku sendiri?” jawab Hoseok dengan langkah yang semakin memojokan
Jiseol ketembok. Jiseol hanya terdiam, bibirnya terkatup dan terkunci. Benar
saja, ia takut terjebak ucapan Hoseok saat ini.
“Yeah, aku sedang memfikirkannya
sekarang. Karena urusanku adalah kau” ucap Hoseok tiba-tiba, yang membuat dahi
Jiseol berkerut tanda ia bingung.
“Apa maksudmu?”
“Aku ingin kau mengungkapkan apa
yang tertulis dihatimu”
“Tidak ada apa pun yang tertulis
disana jadi, jangan coba menyuruhku membacanya”
“Tidak ada yang tertulis? Kalau
begitu aku akan mengukir nama ‘Jung Hoseok’ disana” ucap Hoseok sembari
menempelkan dahinya kedahi Jiseol.
“Ya, apa yang kau lakukan? Pergilah,
aku muak denganmu!” teriak Jiseol sembari mendorong tubuh Hoseok menjauh dan
kemudian ia berlari.
“Jiseol-ah, aku belum selesai
bicara!”
“Bicaralah pada tembok disebelahmu
itu Hoseok-ssi!”
Sekarang berbalik. Hoseok
mengerutkan dahinya dan detik berikutnya ia tersenyum simpul.
“Baiklah, wahai tembok dengarkan
aku” ucapnya memulai perkataan.
“Aku menyukai seorang yeoja, tapi ia
sering berbicara kasar padaku, tapi juga, semakin ia begitu justru aku semakin
menyukainya, apa kau tahu kenapa?”
Hoseok menempelkan telapak tangannya
ketembok dan sambil begitu ia berjalan menuju arah yang membuatnya terus
tersenyum. Oh, tidak. Jiseol sekarang tengah bersembunyi. Dan ia sama sekali
tidak meninggalkan Hoseok sendirian. Jiseol menyembunyikan dirinya dibelakang
tembok. Berusaha mendengar dan menyimak apa saja perkataan dari namja itu.
Hoseok tahu betul bahwa yeoja itu
sedang mendengarkan ucapannya. Dan sekarang ia mulai melanjutkan kalimatnya.
“Yeah, benar sekali, karena aku
hanya ingin-“
.
.
.
.
“Membuatnya
belajar mencintaku”
.
.
.
.
‘Aku bahkan sudah
terlalu jauh mencintaimu’ –batin Jiseol.
.
.
.
‘Sejak awal
pertemuan kita’ –batin Jiseol kembali.
.
.
.
“Kalau memang
begitu faktanya, kenapa kau tidak mengutarakan perasaanmu?” ucap Hoseok yang
semakin mendekat pada persembunyian Jiseol. Seakan namja itu tahu apa yang
yeoja itu bicarakan dalam hatinya.
.
.
.
“Sekali lagi-“
ucap Hoseok.
.
.
.
“Aku mencintaimu-”
.
.
.
“Song Jiseol”
.
.
.
Deg,
.
.
.
.
.
~Just
Thirtty Minutes~
Epilogue :
Hoseok mengunci pergerakan tubuh
Jiseol dihadapannya. Mata namja itu terlihat lebih redup dari biasanya. Menatap
Jiseol yang sekarang hanya bisa menunduk dengan wajahnya yang memerah. Ia malu
karena persembunyiannya yang ditemukan. Yup! Ia benar-benar tidak bisa
menyembunyikan perasaannya lagi.
Tangan Hoseok tergerak untuk
mengambil sebuah ponsel disaku celananya. CLICK, ia menekan sebuah tanda
diponsel layar sentuhnya itu. Sebuah senyum simpul terlukis dibibir manisnya.
.
.
.
“Tiga puluh menit. Dalam waktu ini
akhirnya aku bisa membuktikan. Bahwa yeoja yang aku cintai ternyata juga
mencintaiku”
.
.
.
.
.
The End
Annyeong,
Huahaha,,,,
akhirnya gua bikin juga yang endingnya nggantung #tawa_evil
#plak ditabok
readers.
Pertanyaannya
adalah apa mereka baru saja jadian? Mian, bukannya kenapa-napa yah, entah
kenapa di fanfic ini author pengin bikin para reader-deul berimajinasi sendiri.
Terserah deh, kalian mau mikir endingnya mereka jadian atau enggak. Yang pasti
selamat berfikir-fikir ria ^^.
Sampai jumpa difanfic selanjutnya,
annyeong ^^.
Jangan lupa like
and comment reader-deul.
kapan lu aktif lagi nggi?? FF lu bagus-bagus lohhh^^
BalasHapusMian, kalau gua udah dapet ide lagi ya^^
Hapushaha jan lama2
Hapus